Pencarian

Dilema


Analogi Dilema

Sekelompok anak-anak sedang bermain di sebuah rel kereta yang masih aktif dilalui oleh kereta meskipun tidak menjadi jalur rutin kereta penumpang. Terkadang dalam satu hari ada kereta yang lewat, namun tidak jarang pula tak ada kereta yang melintasi sehari bahkan sampai dua hari.



Pada sisi yang lain, ada satu orang saja anak kecil tengah asik sendirian bermain di lajur rel kereta yang memang sudah tidak aktif alias rusak. Entah kenapa, si anak kecil ini betah bermain sendirian dan tidak terpengaruh oleh keramaian kawan-kawannya di sebelah sana. Tiba-tiba, datanglah 6 gerbong kereta beserta lokomotifnya yang semakin detik semakin mendekat dan mengancam kelompok anak-anak yang sedang asik bermain. Seorang bapak separuh baya yang menyaksikan aktivitas ini disamping rel tersebut, berada di dalam situasi yang sangat tidak biasa. Dia bingung dan terus berpikir keras apa tindakan terbaik yang dia ambil untuk menyelamatkan anak-anak tersebut?. Kereta tampaknya sangat sulit untuk dihentikan secara mendadak, lalu apakah dia akan memindahkan sambungan rel dari yang aktif kepada rel yang rusak demi menyelamatkan lebih banyak anak-anak tapi mengorbankan satu anak?. Ataukah dia akan membiarkan kereta berlalu pada track semula dan mengorbankan lebih banyak anak lagi?. Tentu ini bukan pekerjaan dan keputusan yang gampang, perlu dipikirkan lebih matang dan akurat.

Sejenak dia merenung, menganalisa situasi, berpikir dan mencoba menimbang-nimbang apa keputusan terbaik yang harus diambil?. Kebanyakan orang hampir dipastikan akan mengambil keputusan memindahkan sambungan rel kepada lajur yang rusak dengan persepsi dan alasan demi menyelamatkan lebih banyak anak-anak meskipun dengan ongkos mengorbankan satu orang anak. Secara rasional, moral dan emosional adalah sangat wajar orang berpikir demikian. Tapi, apakah kita tidak menyadari bahwa justru faktanya seorang anak yang bermain pada lajur dimana relnya sudah rusak juga telah mengambil keputusan yang sangat tepat untuk bermain di rel itu dengan harapan akan selamat dari bahaya kereta yang datang?. Lalu kemudian akhirnya dia harus dikorbankan demi menyelamatkan teman-temannya yang mengambil keputusan yang salah (bermain di rel yang tidak aman)?.

Dilema dan ironisme ini tidak jarang juga terjadi di lingkungan kehidupan dan pergaulan kita sehari-hari. Di kantor, di tetangga, di komunitas profesi, di dunia politik, apalagi di alam demokrasi yang tengah kita nikmati dewasa ini. Biasanya, selalu yang banyak lah yang menang, meskipun terkadang belum tentu benar. Keputusan yang terbaik tentulah tidak memindahkan jalur rel kereta ke tempat yang rusak dimana ada seorang anak kecil, tetapi justru harus memaksa dan meneriaki anak-anak yang sedang bermain di rel yang aktif agar segera berterbangan dan lari secepat mungkin. Namun, jika keputusan yang diambil adalah dengan memindahkan sambungan rel ke tempat yang sudah tidak aktif, di satu sisi Anda telah berusaha dan berniat untuk menyelamatkan banyak anak dengan mengorbankan satu anak, tetapi pada waktu yang sama Anda juga bisa jadi membahayakan nyawa ratusan orang yang sedang menumpangi kereta itu. Dengan memindahkan arah kereta kepada rel yang sudah rusak, maka besar kemungkinan kereta akan terguling, celaka dan nasib penumpangpun bisa sangat berbahaya.

Di saat kita semua tahu bahwa hidup ini penuh dengan keputusan-keputusan yang tidak gampang, kita mungkin tidak menyadari bahwa keputusan yang menyenangkan banyak orang tidak selalu menjadi keputusan yang terbaik. Ingatlah, bahwa yang baik itu belum tentu selalu populer dan yang populer itu belum tentu juga selalu baik.


Source : 3 Positif Paradigma

Tidak ada komentar: