Pencarian

Hidup Harus Memilih

Melihat dan Memilih





Suna adalah lelaki yang berusia 40 tahun, dan baru saja merasakan indahnya sebuah pilihan dan menikmati hikmah dari kekuatan memilih.  Sebelumnya, selama 10 tahun ia terlunta-lunta dalam kegamangan, berteman dengan kebingungan, bekerja tapi tak merasakan nikmatnya bekerja, berjalan tapi tak mengalami hal baru dalam gerak langkahnya dan bergerak maju tapi seolah kembali lagi ke belakang.  


Dalam 10 tahun pekerjaannya, sudah 10 orang pula atasan yang membawahinya.
  Namun, dia tak pernah termotivasi dan tak pernah berubah.  Belum pernah sekalipun Suna merasakan kenaikan gaji di atas 8% per tahun, dan belum pernah pula ada piagam penghargaan prestasi kerja yang diperolehnya, apalagi untuk sebuah surat sakti tentang kenaikan pangkat.  Masih jauh panggang dari api, jika harus mempromosikan jabatan Suna, demikian setiap mantan bosnya berkomentar.

Kalau dilihat lebih jauh tentang keseharian Suna dalam pekerjaannya, memang tampaknya hanya mukjizatlah yang akan bisa membawa Suna kepada keberhasilan dan prestasi kerja.  Tingkah laku dan sikap mentalnya yang tidak professional akan sulit untuk secara obyektif mengantarkan dia ke jenjang promosi kerja yang diinginkannya.  Dia selalu berkutat dengan masalah pribadi dan keluarganya di rumah yang sangat sering terbawa-bawa kepada situasi dan disiplin kerjanya di kantor.  Dalam sebulan, bisa-bisa 4 sampai 5 hari dia tidak masuk kerja, sudah seperti arisan mingguan saja.  Dan, saat ditanya kenapa, maka seratus bahkan seribu alasan disebutnya untuk sekedar menghindar dan berkelit dari masalah disiplinnya itu.  Pada sisi yang lain, Suna sering mengeluh dan curhat kepada teman-teman dekatnya di kantor tentang perhatian dan perasaannya atas kurang adilnya perusahaan .  "  Masak gaji saya yang sudah bekerja 10 tahun lebih kecil dari anak yang baru masuk 2 tahun lalu, padahal lingkup pekerjaannya sama?, gerutunya.  Suna hanya sibuk menggerutu, membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa berusaha membandingkan harapannya dengan karya dan prestasinya sendiri.

Suatu ketika, Suna mendapati lagi atasan yang baru, yang sebenarnya dengan cepat juga sudah menangkap dan memahami integritas dan attitude dia.  Tanpa basa-basi, dua bulan kemudian sang atasan memanggil dan menyampaikan ULTIMATUM kepada Suna.  " Suna, kamu harus memilih, jangan terus menerus hidup dalam kondisi seperti ini terus.  Saat ini pilihanmu hanya dua, yaitu tetap bekerja di sini dengan merubah sikap dan berprestasi, atau keluar meninggalkan perusahaan ini dengan mencari lingkungan atau pekerjaan yang baru.  Siapa tahu rejekimu jauh lebih baik dan menguntungkan dirimu dan hidupmu selanjutnya.  Saya berikan kamu waktu untuk berpikir dua hari, dan jika kamu akan memilih keluar, jangan khawatir, saya akan berikan kamu kesempatan untuk belajar dengan cara mengambil cuti 3 bulan diluar tanggungan perusahaan.  Carilah jalan terbaikmu diluar sana, dan gunakan kesempatan yang ada untuk menimbang dan memutuskan pilihanmu.  

Tidak sampai dua hari, Suna langsung kembali dan mengajukan cuti 3 bulan di luar tanggungan perusahaan.  Dan, tidak cukup 3 bulan mengalami cuti, dia pun sudah kembali menghadap atasan untuk secara resmi mengajukan surat pengunduran diri secara sukarela dan malah penuh semangat.  Apa yang terjadi?, rupanya dia sudah menemukan jalan hidup baru dengan membuka usaha dagang kue basah yang tanpa disadarinya sebelumnya, ternyata memberikan peluang dan hasil yang sangat menjanjikan untuk masa sekarang dan akan datang.  Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tampak agak menyesali semua keterlambatan dan sikap tidak jelasnya selama ini.  Hari ini, Suna sangat berbahagia, karena pilihannya yang mantap dan keinginannya untuk berubah yang kuat atas motivasi atasannya tersebut telah menghantarkannya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat tidak saja bagi dirinya, keluarganya bahkan orang-orang terdekatnya.  Apa yang dia dapatkan sekarang, sangatlah jauh lebih hebat dari apa yang dia peroleh ketika menjalani hidup tak profesional dulu.

***

Hidup ini harus memilih, dimanapun kita dan apapun yang kita pilih, maka hal itu akan mendatangkan hasil yang jauh lebih baik jika dijalani dengan senang, penuh motivasi dan loyal terhadap pilihan kita itu.  Janganlah kita menjadi orang yang seolah-olah telah memilih, akan tetapi sebenarnya kita tidak pernah peduli, loyal dan konsisten dengan pilihan kita itu.  Berikanlah waktu dan ruang yang cukup bagi diri kita untuk mengisi dan memperjuangkan apa yang sudah menjadi pilihan kita tersebut.  Perubahan pilihan, hendaknya dilakukan secara bijaksana, atas pertimbangan yang matang dan positif.  Dan, sekali telah memilih, maka berusahalah untuk maksimal atas pilihan tersebut dalam kurun waktu yang memadai untuk melakukan evaluasi atas pilihan tersebut.

Sumber : 3 Positif Paradigma


Tidak ada komentar: